اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Nabi Syu’aib AS

on 5 November 2012

Kaum Madyam, kaumnya Nabi Syu’aib, adalah segolongan bangsa Arab yang tinggal di sebuah daerah bernama “Ma’an” di pinggir negeri Syam. Mereka terdiri dari orang-orang kafir tidak mengenal Tuhan Yang Maha Esa. Mereka mentembah kepada “Aikah” yaitu sebidang padang pasir yang ditumbuhi beberapa pohon dan tanam-tanaman. Cara hidup dan istiadat mereka sudah sgt jauh dari ajaran agama dan pengajaran nabi-nabi sebelum Nabi Syu’aib as

Kemungkaran, kemaksiatan dan tipu menipu dalam pengaulan merupakan perbuatan dan perilaku yang lumrah dan rutin. Kecurangan dan perkhianatan dalam hubungan dagang seperti pemalsuan barang, pencurian dalam takaran dan timbangan menjadi fitur yang sudah identik dengan diri mereka. Para pedagang dan petani kecil selalu menjadi korban permainan para pedagang-pedagang besar dan para pemilik modal, sehingga dengan demikian yang kaya makin bertambah kekayaannya, sedangkan yang lemah semakin merosot modalnya dan semakin melarat hidupnya.

Sesuai dengan sunnah Allah sejak Adam diturunkan ke bumi bahwa dari waktu ke waktu bila manusia sudah lupakan kepada-Nya dan sudah jauh menyimpang dair ajaran-ajaran nabi-nabi-Nya, dan bila Iblis dan setan sudah menguasai sesuatu masyarakat dengan ajaran dan tuntutannya yang menyesatkan maka Allah mengutus seorang rasul dan nabi untuk memberi penerangan serta tuntutan kepada mereka agar kembali ke jalan yang lurus dan benar, jalan iman dan tauhid yang bersih dari segala rupa syirik dan persembahan yang bathil.

Kepada kaum Madyan diutuslah oleh Allah seorang Rasul yaitu Nabi Syu’aib, seorang drp mrk sendiri, sedarah an sedaging dengan mrk. Ia mengajak mereka meninggalkan persembahan kepada Aikah, sebuah benda mati yang tidak bermanfaat atau bermudharat dan sebagai gantinya melakukan pertunjukan dan sujud kepada Allah Yang Maha Esa, Pencipta langit dan bumi termasuk sebidang tanah yang mereka puja sebagai tuhan mereka.
Nabi Syu’aib kepada mereka agar meninggalkan perbuatan-perbuatan dan kelakukan-perilaku yang dilarang oleh Allah dan membawa kerugian bagi sesama manusia dan mengakibat kerusakan dan kebinasaan masyarakat. Mereka diajak agar berlaku adil dan jujur ​​terhadap diri sendiri dan terutama terhadap orang lain, meninggalkan perkhianat dan kezaliman serta perbuatan curang dalam hubungan dagang, perampasan hak milik seseorang dan penindasan terhadap orang-orang yang lemah dan miskin.

Diingatkan oleh Nabi Syu’aib akan nikmat Allah dan karunia-Nya yang telah memberi mereka tanah subu serta sarana-sarana kemakmuran yang berlimpah-limpah dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan anak cucu yang pesat. Semuanya itu menurut seruan Nabi Syu’aib, harus diimbangi dengan rasa bersyukur dan bersembah kepada Allah Maha Pencipta yang akan melipatgandakan nikmat dan karunia-Nya kepada orang-orang yang beriman dan bersyukur.
Diingatkan pula Nabi Syu’aib bahwa mereka tidak sadar dan kembali ke jalan yang benar mengikuti ajaran dan perintah Allah yang dibawanya, niscaya Allah akan mencabut nikmat dan karunia-Nya kepada mereka, bahkan akan menurunkan azabnya atas mereka di dunia selain siksa dari azab yang menanti mereka kelak di akhirat bila di bangkitkan kembali dari kubur.

Kepada mereka Nabi Syu’aib dikisahkan siksa dan azab yang diturunkan oleh Allah terhadap kaum Nuh, kaum Hud, kaum Saleh dan paling dekat kaum Luth yang semua telah menderita dan menjadi binasa akibat kekafiran, keangkuhan dan keengganan mereka mengikuti ajaran dan klaim nabi-nabi yang diutus Allah kepada mereka. Diingatkan oleh Nabi Syu’aib agar mereka beriktibar dan ingat bahwa mereka akan mengalami nasib yang telah dialami oleh kaum-kaum itu jika mereka tetap melakukan pertunjukan yang bathil serta tetap melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk dan jahat.

Dakwah dan ajakan Nabi Syu’aib disambut oleh mereka terutama penguasa, pembesar dan orang-orang kaya dengan ejekan dan olok-olok. Mereka berkata: “Apakah karena shalatmu, engaku memerintahkan kami menyembah selain apa yang telah kami sembah sepanjang hayat kami. Persembahan mana pula telah dilakukan oleh nenek moyang kami dan diwariskan kepada kami. Dan apakah ini karena shalatmu engkau menganjurkan kami meninggalkan cara-cara hidup sehari-hari yang nyata telah membawa kemakmuran dan kebahagian bagi kami bahkan sudah menjadi adat istiadat kami turun temurun. Sungguh kami tidak mengerti apa apa tujuanmu dan apa maksudmu dengan ajaran-ajaran baru yang engkau bawa kepada kami. Sungguh kami menyaksikan kesempurnaan akalmu dan keberesan otakmu! ”

Ejekan dan olok-olok mrk didengar dan diterima oleh Syu’aib dengan kesabran dan kelapangan dada. Ia sesekali tidak menyambut kata-kata kasar mereka dengan marah atau membalasnya dengan kata-kata yang kasar pula. Ia bahkan makin bersikap lemah lembut dalam dakwahnya dengan menggugah hati nurani dan akal mereka untuk memikirkan dan merenungkan apa yang dikatakan dan disarankan kepada mereka. Dan sesekali ia menonjolkan hubungan darah dan kekeluargaannya dengan mereka, sebagai jaminan bahwa ia menghendaki perbaikan untuk hidup mereka di dunia dan akhirat dan bukan sebaliknya. Ia tidak mengharapkan sesuatu balas jasa atas usaha dakwahnya. Ia tidak pula membutuhkan posisi atau menginginkan kehormatan bagi dirinya dari kaumnya. Ia akan cukup merasa puas jika kaumnya kembali ke jalan Allah, masyarakatnya akan menjadi masyarakat yang bersih dari segala kemaksiatan dan ADT-istiadat yang buruk. Ia akan menerima upahnya dari Allah yang telah mengutuskannya sebagai rasul yang dibebani amanat untuk menyampaikan risalah-Nya kepada kaumnya sendiri.

Kaum Syu’aib akhirnya merasa jengkel dan bosan melihat Nabi Syu’aib tidak henti-hentinya berdakwah bertabligh pada setiap kesempatan dan di mana saja ia menemukan orang berkumpul. Penghinaan dan ancaman dilontar ke Nabi Syu’aib dan para pengikutnya akan diusir dan akan dikeluarkan dari Madyan jika mereka mau menghentikan dakwahnya atau tidak mau mengikuti agama adn cara-cara hidup mereka.
Berkata mereka kepada Nabi Syu’aib dengan nada mengejek: “Kami tidak mengerti apa yang kamu katakan. Nasihat-nasihatmu tidak memiliki tempat di dalam hati dan kalbu kami. Engkau adalah seorang yang lemah fisiknya, rendah posisi dalam pengaulan maka tidak mungkin engkau dapat mempengaruhi atau memimpin kami yang memiliki fisik lebih kuat dan berkedudukan yang lebih tinggi drpmu.Mencoba tidak karena kerabatmu yang kami segani dan hormati, niscaya engkau telah kami rajam dan sisihkan dari pengaulan kami. ”

Nabi Syu’aib menjawab: “aku tidak akan hentikan dakwahku kepada risalah Allah yang telah dipercayakan kepadaku dan jgnlah kamu mengharapkan bahwa aku maupun para pengikutku akan kembali mengikuti agamamu dan ADT-istiadatmu setelah Allah memberi hidayah kepada kami. Pelindunganku adalah Allah Yang Mahakuasa dan bukan sanad kerabatku, Dialah yang memberi tugas kepadaku dan Dia pula akan melindungiku dari segala gangguan dan ancaman. Apakah sanak saudaraku yang engkau lebih disegani drp Allah yang Mahakuasa? ”

Sejak berdakwah dan bertabligh menyampaikan risalah Allah kepada kaum Madyan, Nabi Syu’aib berhasil menyadarkan hanya sebagian kecil dari kaumnya, sedang bagian yang terbesar masih tertutup hatinya untuk cahaya iman dan tauhid yang diajarkan oleh beliau.Mereka tetap bersikeras kepala mempertahankan tradisi, ADT-istiadat dan agama yang mereka warisi dari nenek moyang mereka. Itulah alasan mereka satu-satunya yang mereka kemukakan untuk menolak ajaran Nabi Syu’aib dan itulah benteng mereka satu-satunya tempat mereka berlindung dari serangan Nabi Syu’aib atas pertunjukan mereka yang bathil dan adat pengaulan mereka yang mungkar dan sesat. Di samping itu jika mereka sudah merasa tidak berdaya menghadapi keterangan-keterangan Nabi Syu’aib yang didukung dengan dahlil dan bukti yang nyata kebenaran, mereka lalu melemparkan tuduhan-tuduhan kosong seolah-olah Nabi adalah tukang sihir dan ahli sulap yang ulung. Mereka telah berani menentang Nabi Syu’aib untuk membuktikan kebenaran risalahnya dengan memdatangkan bencana dari Allah yang ia sembah dan menganjurkan orang menyembah-Nya pula.

Mendengar tantangan kaumnya yang menandakan hati mereka telah tertutup rapat-rapat untuk sinar agama dan wahyu yang ia bawa dan bahwa tiada harapan lagi akan menarik mereka ke jalan yang lurus dan mengangkat mereka dari lembah syirik dan kemaksiatan serta pergaulan buruk, maka bermohonlah Nabi Syu’aib kepada Allah agak menurunkan azzab seksanya kepada kaum Madyan bahwa ada-Nya serta menentang kekuasaannya untuk menjadi ibrah dan pelajaran bagi generasi-generasi yang mendatang.

Allah Yang Maha berkuasa berkenan menerima permohonan dan doa Syu’aib, maka diturunkanlah lebih dahulu di atas mereka udara udara yang sangat panas yang mengeringkan kerongkongan karena dahaga yang tidak dapat dihilangkan dengan air dan membakar kulit yang tidak dapat diobati dengan berteduh di bawah atap rumah atau pohon-pohon.
Di dalam kondisi mereka yang sedang bingung, panik berlari-lari ke sana ke mari, mencari perlindungan dari terik panasnya matahari yang membakar kulit dan dari rasa dahaga karena keringnya tenggorokan tiba-tiba terlihat di atas kepala mereka gumpalan awan hitam yang tebal , lalu berlarilah mereka ingin berteduh dibawahnya. Namun setelah mereka berada di bawah awan hitam itu seraya berdesak-desak dan berjejal-jejal, jatuhlah ke atas kepala mereka percikan api dari jurusan awan hitam itu diiringi oleh suara petir dan gemuruh ledakan dahsyat sementara bumi di bawah mereka bergoyang dengan kuatnya menjadikan mereka berjatuhan, terakumulasi satu di bawah yang lain dan Melayanglah jiwa mereka segera.

Nabi Syu’aib merasa sedih atas kejadian yang menimpa kaumnya dan berkata kepada para pengikutnya yang telah beriman: “Aku telah sampaikan kepada mrk risalah Allah, menasehati dan mengajak mereka agar meninggalkan perbuatan-perbuatan mungkar serta pertunjukan bathil mereka dan aku telah memperingatkan mereka akan datangnya siksaan Allah bila mereka tetap bersikeras hati, menutup telinga mereka terhadap suara kebenaran ajaran-ajaran Allah yang aku bawa, namun mereka mengabaikan nasihatku dan tidak mempercayai peringatanku. Karenanya tidak patutlah aku bersedih hati atas terjadinya bencana yang telah membinasakan kaumku yang kafir itu.

Catatan: ~
Para ahli tafsir berselisih pendapat tentang Syu’aib, mertua Musa. Sebahagia besar berpendapat bahwa ia adalah Nabi Syu’aib AS yang diutus sebagai rasul kepada kaum Madyan, sedang yang lain berpendapat bahwa ia adalah orang lain yaitu yang dianggap adalah satu kebetulan namanya Syu’aib juga. Wallahu A’lam bisshawab


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: